nonton teman ujian disertasi


Hari ini seru banget karena pergi nonton teman presentasi ujian disertasi. Teman ini adalah dulunya orang yang hanya aku baca artikelnya karena dia karyanya udah banyak banget di berbagai jurnal dalam bidang kepenulisan bahasa kedua. Sama halnya dengan bapak dosen pembimbing thesis yang dulunya aku hanya bisa baca tulisannya tapi kemudian berhasil meminta beliau jadi pembimbing di akhir semester dua kemarin setelah menulis dan merancang proposal penelitian selama satu semester penuh di kelas research methods. Jadi teman ini juga adalah mantan ketua di klub mahasiswa yang aku ikuti. Aku nontonnya tidak sendiri tapi juga bareng teman-teman yang lain, teman yang aku kenal banget maupun yang hanya kenal tapi gak dekat banget. Hal menarik yang harus diketahui adalah di sini itu menurut aku mahasiswa master bisa dibilang kecil jumlahnya dibandingkan dengan mahasiswa yang studi doktoral. Selama tiga semester ini selalu di dalam kelas dikelilingi teman-teman yang bukan master. Mungkin hal ini juga yang membuat aku tidak bisa menghindari keinginan untuk melanjutkan studi ke jenjang selanjutnya walaupun aku tidak yakin dan setidaknya untuk sekarang aku masih lebih memilih untuk langsung pulan setelah wisuda daripada lanjut daftar studi lanjut.

Oiyah minggu lalu aku juga nonton ujian disertasi tapi teman indonesia. Teman ini sudah menikah dengan bule sih dan kayak kakak-kakak gitu dan sudah jadi istri orang. Sempat ngobrol juga tentang kemungkinan-kemungkinan studi itu dan katanya kalau suka penelitian ya daftar aja tapi yah aku memiliki banyak sekali pertimbangan. Walaupun hati kecil pengen. Hal yang bisa dipelajari di sini adalah ujian disertasi itu tidak menyeramkan tapi bagaikan sesuatu yang biasa-biasa saja dengan pakaian yang biasa juga dan penonton bisa ikut bertanya. Pertanyaan yang datang dari tiga dosen pembimbing thesis juga tidak seram-seram amat. Aku sempat mendokumentasikan dua kali pengalaman nonton disertasi ini di instagram untuk memperlihatkan kepada orang-orang entah pada sadar apa nggak yaitu tentang bagaimana nilai tidak formal itu sangat berlaku di sini. Bukan kayak ujian tapi lebih ke perayaan akademik. Aku harap suatu hari nanti sistem pendidikan tinggi di indonesia juga bisa sesantai ini.


Setelah nonton aku pergi ke musolah di salah satu gedung kampus untuk ibadah dan untuk menghitung-hitung kemungkinan pengeluaran tiga bulan kedepan karena baru dikirim uang bulanan oleh pihak beasiswa. Menyisihkan mana yang akan digunakan ke belanja mingguan mana yang akan untuk bayar uang kosan dan mana yang untuk dikirim ke rekening indo. Aku selalu berkahir dengan tidak punya uang setiap di ujung akhir tiga bulan walaupun tidak terlalu berpengaruh karena akunya memang dari dulu sudah terbiasa untuk tidak punya banyak uang dan juga tidak terbiasa mengeluarkan banyak uang membeli barang-barang mewah. Tanpa aku sadari ternyata aku ini cukup minimalis dalam hal belanja ya walaupun pada akhirnya semua uang itu habis juga. Uniknya aku baru sadar saat tinggal di sini adalah ternayat aku itu suka jalan-jalan dan traveler banget. Jadi, aku bukannya tidak suka jalan-jalan dan rumahan tapi aku hanya tidak punya kesempatan dan uang untuk jalan-jalan aja. Terus masuk kelas dan setelah dari kelas aku mampir ke perpus untuk makan bekal batal puasa karena sudah terlalu terlambat kalau mau makan gratis di mesjid. Saat di mesjid aku curhat kenapa hari minggu gak ke mesjid karena males dan ternyata malanya ada adegan penembakan di parkiran kosan. Terus teman itu cerita ke teman yang lain terus akhirnya dikasih tawaran diantar pulang dengan mobil.


Comments